OUTBREAK PNEUMONIA DI TIONGKOK

Hits : 289
Friday , 14 Feb 2020
ditulis oleh dr. Erfiani

PRESS RELEASE

“PERHIMPUNAN DOKTER PARU INDONESIA (PDPI)

OUTBREAK PNEUMONIA DI TIONGKOK

 

Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang

disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur,

pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Pneumonia dapat menyerang

siapa aja, seperti anak-anak, remaja, dewasa muda dan lanjut usia, namun

lebih banyak pada balita dan lanjut usia.

 Pneumonia dibagi menjadi tiga, dibedakan berdasarkan darimana sumber infeksi yaitu

1.      Community Acquired Pneumonia (CAP)

2.      Hospital Acquired Pneumonia (HAP)

3.      Ventilator Associated Pneumonia(VAP)

 Pneumonia yang sering terjadi dan dapat bersifat serius bahkan kematian yaitu Pneumonia Komunitas (CAP)

 

Angka kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang.

Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya.

Pada tanggal 31 Desember 2019, di Kota Wuhan Tiongkok dilaporkan

adanya kasus-kasus pneumonia berat yang belum diketahui etiologinya.

Awalnya terdapat 27 kasus kemudian meningkat menjadi 59 kasus, dengan

usia, antara 12-59 tahun.

Hasil pengkajian dipikirkan

kemungkinan etiologi kasus-kasus ini terkait dengan Severe Acute Respiratory

Infection (SARS) yang disebabkan Coronavirus dan pemah menimbulkan

pandemi di dunia pada tahun 2003. Global Initiative on Sharing All Influenza

Data (GISAID) merilis jenis Betacoronavirus yang menjadi outbreak di Wuhan,

terdapat 5 genom baru, yang berbeda dari SARS-coronavirus dan MERSCoronavirus.

Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan

penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang

serius seperti MERS dan SARS. Beberapa coronavirus diketahui beredar

diperedaran darah hewan.

 

Gejala yang muncul pada pneumonia ini diantaranya demam, lemas, batuk

kering dan sesak atau kesulitan bernapas. Beberapa kondisi ditemukan lebih

berat. Pada orang dengan lanjut usia atau memiliki penyakit penyerta lain,

memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi. Metode transmisi dan

masa inkubasi belum diketahui. Berdasarkan investigasi beberapa institusi di

Wuhan, sebagian kasus terjadi pada orang yang bekerja di pasar ikan, akan

tetapi belum ada bukti yang menunjukkan penularan dari manusia ke manusia.

 

Terdapat beberapa vaksin pneumonia yang ditujukan untuk mencegah

pneumonia, namun tidak bisa mencegah pneumonia yang sedang outbreak saat

ini. Beberapa vaksin tersebut yaitu sebagai berikut.

Vaksin Pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine)

Vaksin PCV13 (merek dagang Prevnar®) memberikan kekebalan terhadap

13 strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang paling sering

menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan

sekitar 3 tahun. Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak

di bawah usia 2 tahun.

Vaksin Pneumokokus PPSV23

Vaksin PPSV23 (nama dagang Pneumovax 23®) memberikan proteksi

terhadap 23 strain bakteri pneumokokus. Vaksin PPSV23 ditujukan

kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa

usia 65 tahun ke atas, atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus.

Vaksin Hib

Di negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib)

merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama.

Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi

untuk bayi.

 

Terkait pencegahan pneumonia yang sedang outbreak saat ini, belum ada

vaksin untuk mencegah kasus ini karena pneumonia pada kasus outbreak saat

ini disebabkan oleh corona virus jenis baru.

 

Menyikapi hal ini, PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) menyarankan

beberapa hal, antara lain:

1. Agar masyarakat jangan panik.

2. Masyarakat tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk

disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke RS terdekat

3. Health Advice

Melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang

mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik.

Mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20

detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuksekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan

alkohol 70-80% handrub.

Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk.

Ketika meiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke

fasilitas layanan kesehatan.

4. Travel advice

Hindari menyentuh hewan atau burung.

Hindari mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan

hidup.

Hindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala infeksi

saluran napas.

Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan.

Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah outbreak

terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan

kesehatan.

Setelah kembali dari daerah outbreak, konsultasi ke dokter jika

terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter riwayat

perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan

penyakit.

 




Get in Touch


Follow Me